Saya menikah di usia yang kata orang muda. Saya menikah ketika saya sedang menyelesaikan ttugas akhir di kampus dengan wanita yang juga sedang melalui hal yang sama.

Kenapa saya menikah waktu itu? Tidak sebelumnya, tidak sekarang ketika sudah punya pekerjaan, atau nanti ketika saya sudah kaya raya atau miskin? Kenapa 24 Agustus 2008?

Dua tahun sebelumnya saya sudah ingin menikah. Saya sudah mengajukan proposal ke wanita idaman saya dan dia menerima. Saya kemudian mengajukan permohonan surat ijin menikah ke keluarga saya. Namub ternyata ditolak. Hampir semuanya menentang ide itu. Mereka berharap saya bisa menyelesaikan kuliah terlebih dahulu. Mendiskusikan hal tersebut dengan calon saya, ternyata dia juga belum berani bilang ke keluarganya. Ada kejadian di keluarga besarnya yang tidak memungkinkan untuk membicarakan masalah pernikahan.

Hingga akhirnya tiba juga waktu itu. Saya kembali mengajukan proposal nikah, keluarga akhirnya menyetujui dan keluarga si calon juga demikian. Setelah direnungkan memang seperti sudah ada yang mengatur skenario cerita ini.

Kenapa menikah? Jika itu pertanyaannya, saya kembali bertanya kepada anda, kenapa anda makan? Anda makan karena lapar, karena lemas kehabisan energi. Begitu juga dengan menikah. Anda lapar akan kasih sayang seorang wanita yang siap memberikan energi untuk melalui berbabai tantangan dalam hidup. Anda mungkin kadang bisa menahan lapar, tapi kadang sudah tahan dan harus makan saat itu juga. Kalau tidak makan saat itu, mungkin anda akan mati. Begitu juga dengan menikah. Pernikahan adalah sebuah kebutuhan, bukan keinginan. Kalau anda saat ini belum menikah karena merasa belum mampu, itu bukan alasan yang pas. Anda harus mengecek diri anda apakah butuh menikah atau belum. Sama seperti makan, ketika lapar bisa saja anda tidak makan makanan yang sehat dan mengenyangkan, tetapi memilih untuk ngemil. Tapi itu tidak sehat khan? Sama juga Anda butuh menikah tapi malah ngemil (pacaran, bahkan berzina), apakah itu sehat?

Advertisements