Saya akan mencoba untuk menuliskan beberapa alasan dalam memilih atau memutuskan kejadian-kejadian yang saya alami dalam kehidupan. Saya akan mengawali serial ini dengan kenapa saya memilih kuliah di ITB, bukan di ITS, bukan brawijaya yang notabene lebih dekat dengan kampung halaman.

Pada saat SMP, saya ingin kuliah di UGM karena waktu itu bapak saya pernah mendapatkan tugas belajar di UGM selama beberapa bulan. Pada awal SMA saya ingin kuliah di ITS, karena waktu itu ITS beberapa kali masuk koran Jawa Pos yang sering baca karena memenangi perlombaan teknologi. Lalu sempat juga ingin kuliah di IPB jurusan pertanian untuk melanjutkan darah petani dari bapak saya. Hingga akhirnya seorang kakak kelas datang memberikan brifing di kelas IPA 4. Dia bilang sejak tahun 2000 (tahun itu 2004) belum ada lagi siswa SMUN 1 Probolinggo masuk ITB.

Waktu itu saya memiliki jiwa “saya pasti bisa”. Oleh karena itu tantangan itu saya terima. Saya mau kuliah di ITB. Ditambah lagi dengan bayang-bayang BJ Habibi yang menjadi idola. Lalu setelah memutuskan untuk memilih ITB sebagai opsi pertama, saya harus memilih jurusan apa. Sebagai anak SMA di kota kecil jujur saya tidak tahu mau kuliah di jurusan apa. Bidang konseling lembaga pendidikan yang saya ikuti menyarankan saya ke Teknik Perminyakan dengan alasan waktu passing gradenya tidak terlalu tinggi. Pada saat itu muncul ego saya, saya mau masuk ke jurusan yang passing gradenya paling tinggi. Jatuhlah pilihan itu pada teknik informatika. Ditambah dengan ikhtiar yang sangat rajin, akhirnya saya kuliah di ITB, di jurusan yang katanya paling tinggi passing gradenya saat itu Teknik Informatika.