Kenapa ga kerja

Leave a comment

Ada beberapa kawan dan saudara yang kadang bertanya kenapa saya tidak bekerja di perusahaan swasta, pemerintah atau mengabdi di kampus sebagai dosen misalnya. Mengapa saya memilih untuk bekerja di perusahaan yang saya dirikan yang sampai sekarang masih belum tahu akan sebesar apa nantinya, tapi mungkin itu masih terlalu jauh, sampai kapan perusahaan ini akan tetap ada.

 

Pada akhir tahun 2008, sebelum memulai javan, saya sempat iseng melamar dan diterima di sebuah perusahaan asing. Bingung pasti apakah mengambil kesempatan yang mungkin sekali seumur hidup. Kesempatan bagi anak desa untuk hidup di kota besar negeri orang. Namun akhirnya pilihan hidup yang dibuat adalah memulai sebuah perusahaan JAVAN. Beberapa alasan yang saya buat kenapa memilih JAVAN:

  • Saat itu saya masih muda, jika javan gagal saya masih bisa pivot
  • Janji kepada sahabat yang sudah sepakat untuk memulai perusahaan
  • Dukungan istri dan juga karena ada kemungkinan berpisah beberapa bulan
  • Mimpi dan idealisme membangun negeri
  • Egoisme diri?
Apapun alasannya saat itu, pada akhirnya sekarang saya berada di posisi ini. Banyak hal yang disyukuri karena memulai perusahaan sendiri tidak semenakutkan yang dibilang orang, tapi juga tidak segampang buku motivasi bisnis.

 

Jalan hidup sebagai pengusaha sudah dipilih. Konsekuensi yang harus ditanggung setiap hari berusaha harus dijalani. Mimpi menjadi konglomerasi sholeh harus terus dikejar sampai mati.

Advertisements

New life, new place, new role

Leave a comment

Must always remember about this, why we move, what dreams we dream.

cerita novi

New Life

Sesuai dengan cerita di sini, kepindahan kami ke Yogyakarta merupakan salah satu keputusan besar  dalam empat tahun usia pernikahan kami. Memulai hidup di lingkungan yang baru dan tentunya dengan peran yang baru juga. Ketidaknyamanan selama proses adaptasi merupakan konsekuensi yang harus diambil: rutinitas yang berubah, kultur lingkungan yang berbeda, sampai masalah pencarian dokter dan tempat bersalin yang cocok untuk kelahiran adiknya Izza. Semuanya membuat hidup menjadi lebih hidup! 😀

  • Alhamdulillah, ritme hidup kami cenderung lebih teratur dan rasa-rasanya semakin banyak waktu yang berkualitas (Aamiin).
  • Belajar mengelola dan memelihara rumah dengan lebih baik.
  • To do: Mendefinisikan kembali target-target yang ingin kami capai dalam beberapa tahun ke depan.

New Place

  • Sedikit-sedikit, mulai belajar berbahasa Jawa secara aktif dan halus.
  • Membiasakan diri dengan pilihan transportasi umum yang terbatas.
  • Di sini, kami memutuskan membeli kipas angin, benda yang tidak pernah terpikirkan untuk dibeli saat masih di Bandung.

New Role

  • Ibu…

View original post 180 more words

Kehilangan Sertifikat Tanah dan Rumah

5 Comments

Saya mendapatkan musibah kehilangan sertifikat tanah dan rumah. Nanti akan saya tulis bagaimana itu bisa terjadi. Saya akan berbagi proses apa saja yang saya lalui terkait dengan kejadian ini.

Pertama kali saat sadar bahwa sertifikat tanah dan rumah tidak ada di tempatnya, dan dicari ke segala tempat yang mungkin juga tidak ditemukan, saya dan istri langsung menuju ke polsek. Polsek adalah kantor polisi di level kecamatan tempat tinggal.

Setelah sampai di polsek saya dimasukkan ke divisi reskrim (terkait dengan kriminal), karena kasus saya pencurian. Di sini prosesnya cukup lama karena saya diwawancarai sebagai saksi, sekitar 2 jaman. Di sini saya mendapatkan surat keterangan hilang dari kepolisian.

Keesokan harinya, saya berdiskusi dengan notaris tentang kasus ini. Sang notaria berkata, bisa saja sertifikat itu disalahgunakan (digadaikan atau dijual dengan memalsukan kartu identitas saya) dan dia menyarankan untuk mengurus sertifikat pengganti. Karena saya tidak mau kehilangan waktu untuk mengurus surat ini, saya menggunakan jasa sang notaris. Biaya yang dia minta termasuk pengumuman di media massa sebesar 4,5 juta. Cukup mahal tapi cukup murah juga daripada terjadi kejadian yang tidak diinginkan.

Sat ini ketika saya menulis ini  (6 September 2013  sekitar jam 10 pagi) sedang menghadiri proses pengambilan sumpah si BPN (Badan Pertanahan Nasional). Prosesnya sederhana, saya membaca teks sumpah yang sudah disiapkan di depan kepala apa gitu (lupa) lalu menandatanginya di atas materai.

Tahap berikutnya adalah pengumuman di koran. Selama 30 hari masa berlaku pengumuman itu, jika tidak ada pihak yang keberatan maka proses akan dilanjutkan. Dan setelah itu tinggal menunggu (ini sih katanya, sampai saat ini belum tahu yang sebenarnya karena masih diproses).

Kenapa Menikah Muda (Ketika Kuliah)

1 Comment

Saya menikah di usia yang kata orang muda. Saya menikah ketika saya sedang menyelesaikan ttugas akhir di kampus dengan wanita yang juga sedang melalui hal yang sama.

Kenapa saya menikah waktu itu? Tidak sebelumnya, tidak sekarang ketika sudah punya pekerjaan, atau nanti ketika saya sudah kaya raya atau miskin? Kenapa 24 Agustus 2008?

Dua tahun sebelumnya saya sudah ingin menikah. Saya sudah mengajukan proposal ke wanita idaman saya dan dia menerima. Saya kemudian mengajukan permohonan surat ijin menikah ke keluarga saya. Namub ternyata ditolak. Hampir semuanya menentang ide itu. Mereka berharap saya bisa menyelesaikan kuliah terlebih dahulu. Mendiskusikan hal tersebut dengan calon saya, ternyata dia juga belum berani bilang ke keluarganya. Ada kejadian di keluarga besarnya yang tidak memungkinkan untuk membicarakan masalah pernikahan.

Hingga akhirnya tiba juga waktu itu. Saya kembali mengajukan proposal nikah, keluarga akhirnya menyetujui dan keluarga si calon juga demikian. Setelah direnungkan memang seperti sudah ada yang mengatur skenario cerita ini.

Kenapa menikah? Jika itu pertanyaannya, saya kembali bertanya kepada anda, kenapa anda makan? Anda makan karena lapar, karena lemas kehabisan energi. Begitu juga dengan menikah. Anda lapar akan kasih sayang seorang wanita yang siap memberikan energi untuk melalui berbabai tantangan dalam hidup. Anda mungkin kadang bisa menahan lapar, tapi kadang sudah tahan dan harus makan saat itu juga. Kalau tidak makan saat itu, mungkin anda akan mati. Begitu juga dengan menikah. Pernikahan adalah sebuah kebutuhan, bukan keinginan. Kalau anda saat ini belum menikah karena merasa belum mampu, itu bukan alasan yang pas. Anda harus mengecek diri anda apakah butuh menikah atau belum. Sama seperti makan, ketika lapar bisa saja anda tidak makan makanan yang sehat dan mengenyangkan, tetapi memilih untuk ngemil. Tapi itu tidak sehat khan? Sama juga Anda butuh menikah tapi malah ngemil (pacaran, bahkan berzina), apakah itu sehat?

Kenapa ITB

Leave a comment

Saya akan mencoba untuk menuliskan beberapa alasan dalam memilih atau memutuskan kejadian-kejadian yang saya alami dalam kehidupan. Saya akan mengawali serial ini dengan kenapa saya memilih kuliah di ITB, bukan di ITS, bukan brawijaya yang notabene lebih dekat dengan kampung halaman.

Pada saat SMP, saya ingin kuliah di UGM karena waktu itu bapak saya pernah mendapatkan tugas belajar di UGM selama beberapa bulan. Pada awal SMA saya ingin kuliah di ITS, karena waktu itu ITS beberapa kali masuk koran Jawa Pos yang sering baca karena memenangi perlombaan teknologi. Lalu sempat juga ingin kuliah di IPB jurusan pertanian untuk melanjutkan darah petani dari bapak saya. Hingga akhirnya seorang kakak kelas datang memberikan brifing di kelas IPA 4. Dia bilang sejak tahun 2000 (tahun itu 2004) belum ada lagi siswa SMUN 1 Probolinggo masuk ITB.

Waktu itu saya memiliki jiwa “saya pasti bisa”. Oleh karena itu tantangan itu saya terima. Saya mau kuliah di ITB. Ditambah lagi dengan bayang-bayang BJ Habibi yang menjadi idola. Lalu setelah memutuskan untuk memilih ITB sebagai opsi pertama, saya harus memilih jurusan apa. Sebagai anak SMA di kota kecil jujur saya tidak tahu mau kuliah di jurusan apa. Bidang konseling lembaga pendidikan yang saya ikuti menyarankan saya ke Teknik Perminyakan dengan alasan waktu passing gradenya tidak terlalu tinggi. Pada saat itu muncul ego saya, saya mau masuk ke jurusan yang passing gradenya paling tinggi. Jatuhlah pilihan itu pada teknik informatika. Ditambah dengan ikhtiar yang sangat rajin, akhirnya saya kuliah di ITB, di jurusan yang katanya paling tinggi passing gradenya saat itu Teknik Informatika.

Hampir 30

Leave a comment

Yup 4 hari lalu (18 Juli 2013) aku berulang tahun yang ke 27. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Masih teringat beberapa kenangan di masa kecil ketika aku menangis pengen ke kolam renang, ketika ibuku membelikan dompetku yang pertama, ketika aku punya mainan mobil tamiya, ketika TK aku kehilangan uang ongkos untuk pulang, ketika aku bersekolah SD untuk 2 hari pertama diantar ibu, hari-hari berikutnya naik angkot sendiri, ketika jatuh cinta untuk pertama kalinya, ketika bercerita panjang lebar dengan seorang sahabat tentang enaknya nanti kalau jadi lulusan Teknik Informatika. Dan sekarang aku telah menjadi seorang pria dewasa, seorang suami dari seorang istri yang baik dan bapak dari dua orang anak.

Dalam 27 tahun perjalanan hidup ini, alhamdulillah banyak nikmat yang sudah diperoleh:

  • Kesempatan sekolah di tempat yang baik (SD, SMP, SMA terbaik di Probolinggo, ITB, dan sekarang di UGM)
  • Kesempatan punya komunitas yang baik (Persaudaraan Setia Hati Terate, Pustena Salman, ComLabs ITB, Ubuntu-id, KLuB Linux Bandung)
  • Kesempatan untuk memiliki perusahaan IT (Javan)
  • Kesempatan melaksanakan Umrah di bulan Mei 2013
  • Kesempatan punya rumah, sepeda motor dan mobil
  • Kesempatan punya keluarga yang baik (Novi Setiani, Izzatunnisa Muthmainnah, Salman Abdullah)
  • dan masih banyak lagi

Dengan sisa umur yang semakin pendek ini, masih banyak sekali kekurangan, kekhilafan yang sering dilakukan :

  • Waktu tidur yang masih sangat lama
  • Sering galau, efeknya jadi malas ngapa-ngapain
  • Terlalu mudah meluapkan emosi
  • Terlalu sering menyia-nyiakan waktu untuk stalking di Facebook, twitter, padahal sendirinya ga pernah nulis

Terima kasih buat rekan-rekan yang memberikan ucapan selamat kemarin. Ada yang lewat facebook, ada juga yang lewat bot. Semoga doa dari rekan-rekan untuk saya terkabul.

Kalau doa dari saya, dengan sisa waktu 3 tahun sebelum saya berumur 30 tahun, saya ingin mencapai beberapa cita-cita dan keinginan (tolong bantu aminkan doa saya ya…):

  • Kesempatan berbulan madu dengan istri tercinta, sejak menikah belum sempat nih bulan madu (jalan-jalan ke tempat yang asyik berdua, kalau dulu ga ada budgetnya, kalau sekarang ada buntut 2 orang yang ikut kemana-mana -_- )
  • Menulis buku tentang groovy dan grails, entah kenapa lagi jatuh cinta dengan bahasa dan framework ini.
  • Lulus S2 MM UGM
  • Membangun Javan supaya tidak seperti yang ada di http://www.inc.com/gene-marks/my-business-has-no-value-what-about-yours.html
  • Menjadi orang yang bisa lebih memanfaatkan waktu sebaik-baiknya

Teringat ayat/hadits :

  • Kehidupan di dunia hanyalah sementara, seperti seorang pengelana yang mampir istirahat di bawah pohon kemudian melanjutkan perjalanan yang masih sangat panjang
  • Kehidupan di dunia hanya senda gurau semata

Ketika Doa Menjadi Nyata

2 Comments

Dulu ketika masih kecil, aku sering membayangkan jika suatu saat aku pergi dari rumah. Pergi jauh ke hutan, tinggal di tempat seadanya, makan seadanya. Dan pada kelas 3 SMA aku benar-benar pergi dari rumah. Tinggal di asrama sekolah dengan kompensasi harus membantu membersihkan halaman sekolah, musholla dan menyirami tanaman disana. Makan di kantin 154 dengan biaya 50 ribu rupiah per bulan untuk 3 kali makan. Benar-benar makan seadanya.

Kelas 3 SMA aku menempel di dinding kamarku bahwa aku akan sekolah di teknik informatika ITB, walaupun tidak tahu sebenarnya apa itu teknik informatika. Setiap hari belajar dan berdoa supaya mimpi itu menjadi nyata. Dan hal itu menjadi nyata pada tahun 2004 aku benar-benar diterima di teknik informatika ITB dan akhirnya merantau ke Bandung.

Di tingkat 2 kuliah, karena keranjingan membaca buku-buku tentang nikah akhirnya berkeinginan untuk menikah di waktu kuliah. Di tingkat 2 itu sudah hampir aku menikah dengan gadis pujaan hati, namun sepertinya Allah berkehendak lain. Sedih, menangis, kecewa karena ada mimpi yang tidak menjadi nyata. Hingga tahun terakhir masa kuliah mimpi itu tak kunjung menjadi nyata. Doa menikah ketika kuliah tampak impossible. Tapi Allah memang maha mengabulkan doa, rencana lulus tepat waktu tertunda, dan ijin menikah akhirnya turun juga. Impian menikah ketika kuliah akhirnya terwujud juga.

Kembali ke masa SD/SMP, aku teringat ketika bapakku mendapat tugas belajar/diklat di UGM. Saat itu UGM menjadi universitas yang wow buatku. Saat itu inginku berkuliah di UGM. Namun hal itu berubah ketika aku SMA, ITB menarik perhatianku karena sudah banyak teman yang berkuliah di UGM. Namun kini, bertahun-tahun setelah itu ternyta doa itu juga menjadi nyata, menjadi mahasiswa Magister Manajemen di UGM.

Dulu ketika kuliah hingga awal-awal menikah, aku berkeinginan untuk tidak tinggal di satu kota. Aku ingin berpindah-pindah, seminggu di sana, seminggu di sini, seminggu situ. Dan sekarang aku menjelajah kota Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, hanya Probolinggo yang agak jarang hampir setiap bulan.

Sungguh amazing, ketika saya melihat kembali buku sejarah hidup ke masa lalu. Banyak doa-doa yang terucap dan benar-benar menjadi nyata. Dulu merasa ketika impian dan doa tak menjadi nyata, impian itu selamanya tidak akan pernah kembali. Namun setelah menjalani hidup hampir 27 tahun ini, banyak hal-hal yang ketika diingat kembali “Oh ya ini adalah mimpiku waktu dulu…”.

Older Entries