Ada beberapa kawan dan saudara yang kadang bertanya kenapa saya tidak bekerja di perusahaan swasta, pemerintah atau mengabdi di kampus sebagai dosen misalnya. Mengapa saya memilih untuk bekerja di perusahaan yang saya dirikan yang sampai sekarang masih belum tahu akan sebesar apa nantinya, tapi mungkin itu masih terlalu jauh, sampai kapan perusahaan ini akan tetap ada.
 

Pada akhir tahun 2008, sebelum memulai javan, saya sempat iseng melamar dan diterima di sebuah perusahaan asing. Bingung pasti apakah mengambil kesempatan yang mungkin sekali seumur hidup. Kesempatan bagi anak desa untuk hidup di kota besar negeri orang. Namun akhirnya pilihan hidup yang dibuat adalah memulai sebuah perusahaan JAVAN. Beberapa alasan yang saya buat kenapa memilih JAVAN:

  • Saat itu saya masih muda, jika javan gagal saya masih bisa pivot
  • Janji kepada sahabat yang sudah sepakat untuk memulai perusahaan
  • Dukungan istri dan juga karena ada kemungkinan berpisah beberapa bulan
  • Mimpi dan idealisme membangun negeri
  • Egoisme diri?
Apapun alasannya saat itu, pada akhirnya sekarang saya berada di posisi ini. Banyak hal yang disyukuri karena memulai perusahaan sendiri tidak semenakutkan yang dibilang orang, tapi juga tidak segampang buku motivasi bisnis.
 

Jalan hidup sebagai pengusaha sudah dipilih. Konsekuensi yang harus ditanggung setiap hari berusaha harus dijalani. Mimpi menjadi konglomerasi sholeh harus terus dikejar sampai mati.