Saya (mengaku sebagai) seorang pemilik sebuah bisnis. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi yang didirikan 4 tahun lalu dengan 2 orang rekan saya. Kami telah mengalami masa-masa prihatin ketika memulai, masa-masa penuh dengan passion ketika berkembang, masa-masa bahagia ketika membagikan keuntungan, masa-masa menegangkan ketika ada perbedaan pendapat. Hal yang natural dan alamiah yang dialami sebagian besar pebisnis.

Ketika mengikuti sebuah pelatihan bisnis dari ActionCoach pada tahun 2010, ada konsep yang sekarang saya rasakan sangat benar. Sebuah bisnis dibangun untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh pemiliknya. Sebuah bisnis dibangun bukan untuk memperbudak tuannya. Ketika sebuah bisnis semakin berkembang, pemilik harus mengevaluasi bagaimana perkembangan bisnisnya dengan tujuan yang dulu dia tanamkan ketika membangun sebuah bisnis: selaras, ada sedikit penyimpangan atau penyimpangan yang sangat besar ? Ketika bisnis yang dibangun selaras dengan tujuan awal, tentu tidak ada masalah. Namun ketika ada penyimpangan, akan timbul hal-hal yang tidak disukai. Contoh penyimpangan ini adalah dulu membangun bisnis supaya memiliki kebebasan waktu dan lokasi kerja. Ketika bisnis ini semakin berkembang jangankan kebebasan waktu, untuk tidur dan bermain bersama keluargapun harus dijual atas nama keberlangsungan dan perkembangan bisnis.

Konsep yang sederhana bahwa Business terdiri dari dua kata Busy + Ness. Semakin bisnis berkembang, semakin tidak sibuk si pemilik bisnis. Maksudnya dari tidak sibuk ini adalah bagaimana perusahaan / bisnis bisa berjalan auto pilot. Semua sudah ada sistemnya. Bagaimana mendapatkan klien baru, bagaimana mendeliver produk/jasa, bagaimana proses pembentukan dan mempertahankan tim. Seorang pemilik bisnis harusnya ON BUSINESS bukan pada IN BUSINESS. Menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengembangkan bisnis bukan pada operasional bisnis itu sendiri.