Beberapa waktu ini, aku dan istriku lagi menyukai tempat makan baru, yaitu di bawah jembatan pasopati Bandung. Sudah bertahun-tahun jembatan dan warung makan itu ada, namun dalam jangka waktu sebulan ini kami baru berani berkesempatan mencobanya. Tempat makan yang pastinya dianggap tidak layak oleh sebagian besar orang. Tempat makan kaum yang tidak mampu masuk ke restoran-restoran mahal.

Letak warung itu seadanya, aku yang cukup tinggi postur badannya harus membungkuk ketika memasukinya. Tidak ada yang mewah dari tempat makan itu, atapnya adalah jembatan pasopati, 1 buah meja besar, dan 2 buah kursi panjang. Kebanyakan yang makan disana adalah para tukang becak, pengamen dan pengemis yang beroperasi di sekitar jembatan pasopati tamansari.

Menunya juga sederhana, ketika pagi hari (baru sempat mencoba makan pagi, makan siang dan malam belum pernah) tersedia ikan mas goreng, ayam goreng, telur dadar, gehu, tempe dan bala-bala. Yang spesial adalah secara default, porsi nasinya adalah super jumbo. Hal ini memang karena target pasarnya adalah kalangan yang mementingkan kenyang dibandingkan gizi.

Pagi ini kami berdua makan dengan menu nasi putih, ikan patin, telur dadar, gehu dan tempe masing-masing dua. Berapa coba harga yang harus kami bayar untuk porsi seperti itu? Hanya Rp 8.500. Kami berulang kali memastikan apakah semuanya sudah terhitung dan si penjual menjawab sudah. Sebuah harga yang sangat murah, hingga kami berdua bertanya-tanya berapa penghasilan yang didapat baik oleh penjualnya apalagi oleh pembelinya. Pasti sangat minim. Kami termasuk pembeli yang makan cukup banyak lauk, rata-rata yang makan disana hanya makan nasi putih dan satu buah lauk, bisa telor saja, ikan saja, kadang ada yang pakai tahu saja.

Itulah realita yang ada di negara ini. Kadang terdengar kalau harga di berbagai tempat makan fastfood adalah murah, bagi kaum yang lain itu sangat mahal. Ketika kita merapikan tata kota dengan merelokasi dan melarang tempat jualan yang tidak resmi, namun ada kaum-kaum yang daya belinya sangat rendah sehingga jika penjual harus menyewa tempat, harga makanannya tidak akan terjangkau.

Banyak sekali PR yang harus diselesaikan…