Hari ini, tanggal 1 november 2011 saya membuat SIM di polres bandung jalan jawa. Ketika baru datang, ada oknum yang menawari apakah mau mengurus sendiri atau dibantu, tentu saja pilih yang sendiri. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah membuat surat keterangan sehat dari dokter umum yang telah disediakan. Di sini dites buta warna, lihat tulisan dari yang besar sampai kecil seperti di dokter mata/toko kacamata, tensi darah, berat dan tinggi badan. Biaya yang perlu dikeluarkan di pos ini adalah Rp 30.000.

Langkah berikutnya adalah mengikuti tes teori. Di pos ini menyertakan surat keterangan yang didapat dan fotocopy ktp seraya menunjukkan ktp asli. Di pos ini tidak dipungut biaya. Tes teorinya ternyata mengasyikkan, tidak lagi menggunakan kertas dan bolpen melainkan audio visual. Setiap soalnya berupa video kasus, lalu saya harus memilih benar atau salah. Segera setelah tes selesai, langsung diumumkan siapa yang lulus dan yang gagal di layar. Untuk bisa lulus, minimal benar 21 dari 30 pertanyaan. Spoiler kebanyakan jawaban adalah salah, jadi kalau sudah bingung jawabannya apa, pilih aja salah😀.

Aplikasi tes teori SIM C

Setelah lulus tes teori, langsung tes praktek, di pos ini juga tidak dipungut biaya. Lulus dari tes praktek, kemudian saya diharuskan membayar asuransi sebesar Rp 30.000 yang mengcover kematian maksimal 2 juta, cacat tetap 2 juta, rumah sakit 200 ribu untuk jangka waktu 5 tahun, sama dengan masa berlaku SIM. Lalu saya harus membayar biaya administrasi di bank BRI sebesar Rp 100.000.

Setelah proses administrasi beres, kemudian menunggu proses pengambilan foto. Sungguh perubahan yang sangat besar menurut saya mengingat beberapa tahun lalu, kalau pengen cepat harus membayar lebih, sekarang dengan jalur normal yang menghabiskan biaya total 160 ribu bisa selesai dalam sehari. Walaupun sebenarnya cukup lama juga sih, saya datang pukul 8.30 baru selesai dapat SIM pukul 12.00

* tetep kalau pakai bantuan, proses pembuatan SIM akan lebih cepat -_-. Sewaktu menunggu antrian foto, nama saya tidak dipanggil-panggil. Awalnya sabar, lama-kelamaan kesal juga karena ada orang yang ikut tes kloter kedua (saya pertama) sudah dipanggil. Ternyata jalur normal dipisahkan, yang dipanggil duluan adalah yang menggunakan bantuan. Setelah protes, baru berkas saya diberikan dan dipersilahkan untuk difoto.