Beberapa waktu terakhir ini sering sekali harus bertemu dengan dilema dan salah kaprah tentang open source. Open Source yang mulai booming akhir-akhir ini. Sering timbul pertanyaan tentang biaya yang akan ditimbulkan dengan implementasi perangkat lunak open source. Kebanyakan sering bilang bahwa open source software adalah gratis, padahal tidak benar demikian. Open source tidak selalu gratis.

Beberapa waktu lalu dapat kesempatan berbicara di radio Rase FM Bandung untuk memperkenalkan Javan sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang open source. Tanpa sengaja menemukan analogi yang cukup pas tentang open source, kue. Saya analogikan open source adalah kue, ada kue yang dijual kuenya saja, konsumen tinggal menikmati kue itu enak tanpa tahu bagaimana proses pembuatan kue itu. Konsumen hanya bisa berkomentar kue itu enak atau tidak. Jika enak konsumen bisa memutuskan untuk membeli lagi kue itu jika tidak konsumen bisa komplain ke pembuat kue untuk dibuat menjadi enak atau malah tidak mau makan kue itu lagi. Inilah perangkat lunak closed source. Konsumen hanya bisa menikmati tanpa bisa mengubah kue itu. Kue itu ada yang diberikan gratis misalkan kue yang diberi oleh tetangga kita, ini namanya free software dan ada kue yang harus beli misalkan beli kue di toko kue, ini namanya propretriary.

Ada lagi kue berikutnya adalah selain kuenya yang diberikan, juga diberitahukan resep dan cara membuat kuenya. Dengan demikian konsumen bisa makan kuenya saja, jika misalkan merasa kuenya ada yang kurang enak, misal kurang manis atau kurang coklatnya, konsumen bisa membuat ulang kue itu dengan memberi tambahan rasa yang kurang. Inilah open source software, software yang ikut disertakan source codenya sehingga selain menggunakan juga bisa memodifikasi software tersebut. Apakah gratis? Belum tentu. Selayaknya kue, ada penjual yang menjual kue tersebut atau bisa juga ada tetangga yang berbaik hati memberikan kue gratis cuma-cuma.

Sering terjadi kesalahpahaman bahwa open source software sama dengan free software. Sebagai pengembang perangkat lunak, saya bisa menjual perangkat lunak yang saya buat beserta sourcenya maka bisa dibilang saya menjual perangkat lunak open source, karena source code nya bisa dilihat dan dimodifikasi oleh klien saya. Sebaliknya misalkan saya membuat perangkat lunak walaupun menggunakan teknologi open source seperti Java, PHP, MySQL, Linux dan sebagainya namun ketika saya jual ke klien tanpa dengan source codenya (kadang dengan source code namun sudah dienkripsi) tidak bisa saya bilang saya menjual perangkat lunak open source.

Itulah perbedaan open source dan closed source. Inti utama yang berbeda adalah penyertaan source code kepada klien bukan masalah harga.