Minggu ini aku menerima dua buah tawaran bisnis. Namun bisa dibilang keduanya sangat berbeda.

Bisnis yang pertama, ditawari oleh seorang kenalan ketika mengikuti seminar entrepeneurship. Dia merupakan orang yang kutahu memiliki beberapa unit bisnis. Sangat hebat mengingat dia masih berkuliah. Namun sayang, bisnis yang dia tawarkan menurutku hanya berorientasi kepada uang, yaitu MLM untuk salah satu produk kesehatan. Sebenarnya, aku merasa bersalah kepadanya karena aku menolak tawaran itu tidak dengan cara yang baik. Mungkin saat itu aku sudah sangat kesal telah menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam untuk mendengarkannya. Aku menolaknya karena MLM yang dia tawarkan tidak sesuai dengan MLM yang menurutku benar (semoga aku sempat menulis definisi MLM yang menurutku benar. MLM yang mungkin tidak akan aku tolak jika aku diajak bergabung menjadi anggotanya).

Bussiness On Line

Bisnis yang kedua sebenarnya tidak begitu tepat jika dibilang sebagai tawaran bisnis, lebih tepatnya adalah ajakan untuk berbisnis. Beliau (yang memberikan presentasi) merupakan salah satu alumni Salman yang saat ini memiliki usaha yang hebat, memproduksi mesin produksi, mesin yang bisa digunakan untuk memproduksi barang lain. Salah seorang mentor pernah mengatakan jika suatu negara ingin menjadi negara industri, negara itu harus mampu menghasilkan mesin produksi. Dan presentator itu sudah memulainya.

Awalnya beliau mengingatkan bahwa sebagai muslim, jangan berbisnis hanya demi uang. Harus ada motivasi lebih daripada hanya sekedar uang. Salah satu analogi yang dia ceritakan agar bersemangat dalam membuka lapangan kerja adalah mengenai kisah Perang Badar. Ada salah seorang sahabat yang memiliki udzur namun meminta ijin kepada Rasul untuk tetap ikut berperang. Lalu, sahabat itu menangis karena tidak diijinkan. Perang Badar itu dia analogikan sama dengan menjadi wirausahawan, pembuka lapangan pekerjaan. Jika pada Perang Badar yang berisiko syahid saja sahabat tersebut menangis ketika tidak diijinkan, kenapa berjuang menjadi pembuka lapangan pekerjaan yang mungkin ‘hanya’ berisiko tidak mendapat gaji dan hidup tidak nyaman pada awalnya kita takut. Sungguh memotivasi.

Selain itu beliau juga memberikan beberapa tips bagi pengusaha, diantaranya yang aku ingat adalah jangan lupa CSR (company social responsibility), baik-baiklah sama lingkungan sekitar tempat menjalankan bisnis. Perjelas pembagian saham, hak dan kewajiban masing-masing pendiri perusahaan jika tidak ingin perusahaan bubar di tengah jalan.

Pada akhirnya, dari minggu ini aku mengambil pelajaran. Bisnis yang ingin aku jalani tidak hanya sekedar karena uang. Aku ingin lebih dari itu. Aku ingin bisnis yang aku jalankan bisa membantu orang lain. Aku ingin bisnis yang bisa membantu bangsa ini bangkit dari keterpurukan.
Memilih untuk membuka usaha sendiri berarti memilih untuk bersiap berjuang keras.

Hmm, sebenarnya ada satu pelajaran lagi. Aku harus memperbaiki caraku menyampaikan ketidaksetujuan terhadap suatu hal. Melatih empati dan tenggang rasa. Hehe, mirip pelajaran PPKn aja.