Sejak dibuat untuk pertama kalinya, linux berkembang dengan pesatnya. Dimulai dari sebuah kernel yang dibuat oleh seorang mahasiswa bernama Linux Torvalds sistem operasi ini berkembang menjadi sebuah sistem operasi yang canggih seperti atau bahkan melebihi sistem operasi lain yang mendahului dan berbayar.

Dulu pada awalnya, linux tidak senyaman dan secanggih saat ini. Masih penulis ingat ketika pertama kali mencoba distro linux yaitu fedora 4, betapa kesalnya karena sangat susah untuk menonton film dan musik. Ditambah lagi dengan tampilan yang jauh dari bagus. Dengan semakin naiknya versi, tampilannya semakin bagus (umumnya berglossy). Pada saat itu sangat diperlukan interaksi dengan forum, milis dan pengguna lainnya untuk menemukan solusi dan cara untuk menyelesaikan masalah.

Timbullah berbagai komunitas yang mensupport linux. Di Indonesia bisa kita lihat ada YPLI (Yayasan Penggerak Linux Indonesia) dan berbagai KPLI (Kelompok Pengguna Linux Indonesia) seperti KPLI Bandung, KPLI Jakarta, KPLI Semarang dan sebagainya. Juga ada komunitas linux berdasarkan distro seperti ubuntu-id, opensuse-id dan sebagainya. Komunitas-komunitas tersebut berjuang untuk mengenalkan Linux kepada masyarakat umum.

Sekarang dengan semakin nyamannya linux bisa dibilang komunitas linux kurang kerjaan. Mau promosi bahwa linux itu mudah sudah bukan jamannya karena linux kenyataannya sangat mudah. Untuk menginstal aplikasi tidak perlu lagi membeli cd bajakan layaknya windows, melainkan cukup dengan satu perintah apt-get install atau yum install. Sangat mudah! Troubleshooting sudah semakin sering terjadi karena kebanyakan hardware sudah berjalan baik di linux. Tutorial linux juga semakin banyak di internet. Cukup masukkan masalah yang ingin dipecahkan ke mesin pencari seperti google, akan ditemukan beribu solusi yang ditawarkan oleh setiap orang.

Beberapa waktu lalu diadakan ILC (Indonesian Linux Conference) di Bali. Dari salah satu wakil yang dikirimkan dari KPLI penulis, tidak ada rumusan yang sangat berarti dari pertemuan itu. Mungkin bingung mau bergerak kemana KPLI tersebut.

Ke depan mungkin penulis sudah agak bosan dengan Linux, saatnya bergerak ke arah yang lebih luas daripada linux, FOSS (Free Open Source Software). Linux sebenarnya merupakan bagian dari himpunan FOSS. Masyarakat perlu sosiali akan aplikasi-aplikasi FOSS semisal pengganti ms office, pengganti software akuntansi berbayar, pengganti database berbayar dan sebagainya. Itu akan lebih menarik bagi komunitas-komunitas untuk kemblai bergairah dengan berbagai kegiatan. Mampukah open office menggantikan MS Office 2007 sebagaimana Ubuntu dan Open Suse menggantikan Windows Vista? Mampukah gnucash menjadi solusi bagi pihak-pihak yang membutuhkan aplikasi keuangan? Mampukan GIMP dan Inkscape menggantikan adobe photoshop, coreldraw dan sebagainya?

Perjuangan untuk mengedukasi masyarakat masih panjang.