Ketika banyak orang menginginkannya aku malah tidak
Ketika tidak ada orang menginginkannya aku malah ingin


Akhirnya merasakan lagi dimana aku mencapai sebuah titik untuk memilih. Dimana aku sampai kepada sebuah persimpangan jalan satu arah yang tidak mungkin untuk kembali namun aku harus tetap memilih tanpa tahu ada apa di ujung jalan itu.

Melihat banyaknya orang yang ingin bergabung dengan perusahaan itu, seharusnya aku bersyukur bisa menjadi salah satu orang yang lolos seleksi bahkan langsung diberi surat kontrak. Namun entah kenapa ketika mendapatkan amplop dan surat itu aku menangis. Aku menangis karena dengan adanya surat itu aku harus memilih.

Mungkin memang benar hidup penuh dengan pilihan, dan kebanyakan pilihan sama-sama enak, sama-sama tidak enak, sama-sama bagus, sama-sama jelek. Jarang menemui pilihan satu bagus satu jelek. Sisa waktu yang tersisa harus kumanfaatkan semaksimal mungkin untuk merenung untuk memilih apa yang terbaik untuk diriku, untuk istriku, untuk hidupku, untuk matiku.

Wish me luck guys…