Sebagaimana definisi outsourcing yang pernah saya singgung di postingan sebelumnya, outsourcing adalah proses pemindahan tanggung jawab proses bisnis kepada pihak penyedia layanan outsourcing. Jadi misalkan saya punya punya perusahaan e-commerce yang menjual komputer, untuk pengirimannya saya menggunakan layanan pengiriman barang dari PT POS. Jadi perusahaan saya tidak perlu mempekerjakan pegawai yang bertugas sebagai pengantar barang.

Keuntungan dari skema bisnis seperti ini, perusahaan tidak perlu menggaji secara rutin pegawai untuk mengerjakan proses bisnis pengiriman barang. Hal ini menguntungkan bilamana kuantitas pengiriman tidak terlalu banyak, karena jika kuantitas pengiriman sangat banyak akan lebih menguntungkan punya pegawai sendiri karena pasti lebih murah dibanding dengan outsourcing. Keuntungan lain bisa jadi pihak penyedia layanan juga memberikan jaminan barang pasti sampe, jika ada barang rusak atau pengiriman terlambat akan ada kompensasi dan sebagainya.

Kekurangan dari outsourcing mungkin biaya per satuan yang lebih mahal dibandingkan dengan punya sendiri, kemudian sulitnya mencari partner yang benar-benar bisa dipercaya, khususnya di Indonesia.

Dalam industri software, sering saya temui perusahaan konsultan yang hanya menjual nama. Perusahaan tersebut bertugas untuk mencari proyek hingga proyek tersebut deal, namun proses pengerjaan dikerjakan oleh orang lain atau perusahaan lain.

Menurutku, outsourcing seperti di atas merupakan sebuah kesempatan bagi para ‘software engineer’ muda untuk mencari pengalaman. Dengan resiko tanggung jawab yang tidak begitu besar (mungkin hanya tidak mendapat bayaran yang dijanjikan, karena nama yang diajukan adalah si perusahaan konsultan), sang ‘software engineer’ muda bisa bermain bekerja sambil belajar. Namun hal ini jangan sampai kelewatan, anda tahu kenapa?