Tersadar dengan semakin kurang friendlynya aplikasi open source yang ada di Indonesia, ditambah dengan konsistensi ini untuk berIGOS, semakin banyak lapangan kerja yang akan terbuka. Kok bisa?

Yup, bayangkan berapa banyak orang yang komplain dengan tidak nyamannya aplikasi. Tidak nyaman itu sih sebenarnya bukan karena aplikasinya yang bapuk, melainkan si pengguna kurang paham akan aplikasinya. Kebanyakan sudah termanjakan dengan aplikasi mahal tapi bisa didapat dengan harga murah milik microsoft. Jadilah ngeluh-ngeluh ketika mendapat aplikasi yang bener-bener murah.

Dengan adanya keluhan itu, berarti ada peluang bagi orang-orang yang bisa menggunakan aplikasi tersebut dengan baik dan benar untuk mengajari orang-orang yang tidak bisa, hem… dengan banyaknya pengguna komputer di Indonesia ditambah kewajiban menggunakan aplikasi yang bapuk itu, berarti ada berapa banyak lapangan kerja yang dibutuhkan untuk melatih pengguna komputer se Indonesia.

Itu baru di aplikasi office. Untuk industri lain misalkan telekomunikasi, dengan mewajibkan untuk membeli hardware dan software ke dalam negeri, berapa banyak developer yang bisa hidup dan makan. Ditambah dengan jangka waktu yang cukup lama untuk mengembangkan berarti lapangan pekerjaan akan semakin terbuka. Berbeda dengan hanya menjadi implementator produk jadi dari luar negeri, satu hingga dua bulan sudah selesai dan biasanya proyeknya pun hanya dikuasai oleh pihak-pihak tertentu saja.

Hem… ternyata satu saja kebijakan yang protektif terhadap anak bangsa bisa menyelamatkan bangsa ini dari kemiskinian.

Contoh kasus lain yang mirip mungkin adalah berita tentang serbuan tekstil cina ke Indonesia, matilah para penjahit kalo diserbu gitu tanpa dilindungi… Ini gara-gara dulu waktu masih kecil dimanja terus, jadilah ketika orang tua meninggal, sang anak belum bisa hidup mandiri. Oh malangnya nasibmu bangsaku… Tapi mau gimana lagi, solusinya harus flashback ke belakang lagi, lindungi anak yang belum mandiri itu, latih dan lindungi hingga mandiri, setelah mandiri baru boleh dilepaskan untuk bertarung sendiri menghadapi kerasnya hidup. Siapa yang bisa melindungi? tentu saja pemerintah negara ini. Apa bentuk perlindungannya? Bisa saja regulasi, bisa bantuan dana untuk hidup, bisa berupa pembelian produk yang dihasilkan (jaminan pasar akan produk yang dihasilkan), dan lain sebagainya (tambahkan sendiri kira-kira perlindungan apa yang dibutuhkan).