Buat mahasiswa yang baru mau lulus (belum lulus, masih mau lulus) kayak aku gini ada beberapa pikiran yang membikin resah tentang apa yang akan dilakukan setelah lulus. Kerja? Bikin kerjaan? Nikah? atau bersembunyi lagi dengan melanjutkan ke S2 (hehehe sorry ini pendapat pribadi kalau sekolah S2 langsung setelah S1 sebenarnya takut untuk menghadapi kerasnya dunia luar sana, kecuali memang bercita-cita untuk menjadi dosen yang memang jalannya untuk menjadi dosen adalah sekolah, sekolah dan terus sekolah sampai tiba saatnya kembali untuk mengajarkan kembali ilmu-ilmunya). Stress juga sih kalo dipikirin serius dan terus menerus.

Sesuai dengan apa yang diceritakan oleh bapak Kusmayanto ketika acara kick andy di kampus ITB ketika ITB Expo 2008 beberapa waktu yang lalu, anak-anak ITB itu berdosa, apa dosanya?

  • Sudah mengubur cita-cita teman-teman yang tidak masuk ITB ketika persaingan SPMB dulu
  • Jika nanti abis lulus melamar kerja, mengubur kesempatan teman-teman lain yang bukan lulusan ITB

Oleh karena itu kadang ada jiwa idealisme di diri mahasiswa ITB (baca : aku) untuk tidak akan melamar kerja ketika setelah lulus dan ingin membuat lapangan kerja untuk ikut berpartisipasi membangung bangsa ini. Namun idealisme tersebut sering dengan kebutuhan perut (dan mungkin di bawah perutπŸ˜€ ), ditambah dengan ketakutan akan kehidupan yang tidak nyaman dan cemohan dari pihak-pihak yang tidak mengerti (misal keluarga yang ingin alumni ITB harusnya bekerja di BUMN atau perusahaan swasta besar atau bahkan perusahaan multinasional yang jelas-jelas terus membuat negara dan bangsa ini semakin miskin dan terus miskin).

Secara pribadi, aku sendiri kadang takut dengan membuat lapangan pekerjaan sendiri (minimal buat diriku kalau bisa untuk orang lain) di tahap awal sudah kebayang kesulitan yang akan didapat, walaupun sudah berusaha meyakinkan diri nantinya akan enak juga. Sering membayangkan bagaimana bila nanti teman-teman satu angkatan sudah bergaji sedemikian besar, sudah berkeliling dunia beberapa kali, sudah punya harta di sana-sini dan sebagainya sedangkan aku masih berkutat dengan utang dan cicilian yang tidak kunjung lunas.

Mungkin ini menjadi suatu gambaran bahwa diriku masih berpaham keduniaan, aku sering terlupa akan janji Allah bahwa rezeki meliputi harta, jodoh, kematian dan sebagainya tiap hambaNya sudah ada. Aku sering terlupa akan janji Allah bahwa tidak ada cobaan/kesulitan yang melebihan kemampuan hambaNya.

Yup berusaha semaksimal mungkin…