Sekarang di Jakarta, ibukota negara Indonesia, sedang giat-giatnya kampanye. Pendukung dari masing-masing calon saling berusaha memperluas massanya dengan ‘mengecat tembok’ dengan motif wajah sang calon, pasang spanduk di sana sini, bikin iklan di tv, dan kemarin aku melihat dengan mengadakan konvoi kendaraan bermotor, wew rame buuooy.

Hem tentang kampanye, aku ga promosi calon atau apa melainkan pendapatku tentang kampanye itu sendiri, aku kurang setuju. Kenapa? Kampanye menurutku sangat tidak berguna. Mulai dari pemborosan, pembodohan, janji palsu hingga terkadang tindakan anarkhi yang merugikan orang lain. Pemborosan contohnya bikin spanduk, pamflet, kaos oblong murahan, dan bensin jika mengadakan pawai kendaraan bermotor. Pembodohan, peserta kampanye (yang kecil) akhirnya melakukan tindakan yang tidak produktif bagi dirinya. Buat sang calon mungkin dengan banyaknya massa yang dia kumpulkan, semakin besar peluang dia untuk terpilih. Namun sebaliknya bagi peserta kampanye (pawai, kumpul massa) tidak ada yang dia dapat melainkan sedikit uang dan kaos kalau ada, selain itu hanyalah waktu dia terbuang percuma. Coba waktu yang dia habiskan untuk berpartisipasi dalam kampanye dipakai untuk bekerja, berapa penghasilan yang akan dia dapat.

Janji palsu, terkadang apa yang dijanjikan di kampanye terlalu indah, sebuah mimpi yang terlalu tinggi untuk digapai. Aku terkagum-terkagum dan mencoba untuk menerka apa kira-kira yang akan dilakukan oleh para gubernur baru Jakarta untuk mengatasi masalah banjir, kemacetan dll. Dan sampai sekarang aku masih menarik kesimpulan jikalau ada orang yang bisa membuat jakarta ini bebas macet, sekolah gratis tersedia dalam waktu 5 tahun ke depan, aku yakin dia adalah seorang yang jenius. Tapi mungkin saja itu bisa saja cuman akunya yang kurang pintar untuk menerka langkah apa yang akan dia ambil ketika memimpin jakarta. Seorang gubernur aku yakin tidak akan bisa, karena itu bukan basic skill dia. Dia bakal meminta atau memerintahkan para insinyur di negeri ini untuk menyeleseikan. Nah terus kenapa para insinyur itu tidak menyeleseikannya sekarang? Ato para gubernur itulah para insinyurnya? Ah bingung awak.

Tindakan anarkhi, ini kusimpulkan dari apa yang aku lihat kemarin. Kemarin melakukan perjalanan yang cukup menyenangkan dengan busway😀. Dari arah dukuh atas ke matraman buswayku terpaksa melambat karena jalur buswaynya dilewati oleh motor peserta kampanye, jalannya lambat lagi. Kenapa sih katanya mau membenahi jakarta kok malah bikin masalah? Kemudian dari matraman ke ancol, kembali bertemu dengan pawai kampanye. Di sini aku melihat suatu tindakan yang sangat unrealistic untuk seorang kader yang katanya akan memperbaiki bangsa ini, karena ada sebuah mobil pickup yang terburu-terburu, dia mencoba untuk lewat. Namun salah satu peserta kampanye dengan kasarnya menstop pickup itu, dan beberapa detik kemudian dia memukul sang sopir. Walaupun tidak keras, tetapi tetapi itu sebuah pemukulan. What the hell. Ya mungkin dia adalah kader gagal, waktu dikader ketiduran di kelas kayaknya huehue. Sudah membuat kemacetan dengan memblokade jalan, masih mukul orang seenaknya cemmana. Jadilah simpati terhadap pawai itu hilang sama sekali. Bendera-bendera, spanduk berisi janji-janji dan slogan tidak tercermin dalam pawai itu.

Lalu terpikir, gimana sih kampanye yang baik itu? Kalau aku sih jika memang pemimpin yang baik, dia tidak akan ngotot untuk mempromosikan dirinya. Orang akan tau kualitas dia dengan sendirinya. Pemborosan tidak akan dilakukan sehingga nantinya tidak akan ngotot untuk balik modal, tidak akan ‘berterima kasih’ kepada orang-orang yang telah membantunya, dan tidak akan menyebabkan polusi udara, kemacetan lalu lintas, dan tindakan kekerasan terhadap orang yang akan dipimpinnya. (Masih belum jadi pemimpin aja dah mukul orang, gimana kalo dah punya kekuasaan?).

Yup para calon gubernur DKI Jakarta yang terhormat. Masih ada waktu tersisa untuk berkampanye. Buat aku tersenyum bangga padamu, buat aku yakin kamulah yang terbaik untukku, buat aku simpati padamu, buat engkau menjadi teladanku, buat janji-janjimu bukan hanya sebuah mimpi semu bagiku.

NB :

  • secara kayaknya bakalan menjadi warga jakarta (walaupun temporer) dalam jangka waktu 5 tahun ke depan, jadi ya harus ikut menyukseskan pilkada ini, semoga yang terpilih ada orang yang terbaik.
  • Tulisan ini murni pendapat pribadi