Jalan panjang telah kulalui
Masih bingung dengan apa yang kucari…
Apakah kekasih pujaan hati?
Apakah jabatan pemuas hati?
Apakah kekayaan sebagai penunjuk jati diri?
Ataukah hanya sebuah ketenangan hati?

Hehehe sebuah puisi yang kutulis untuk menunjukkan bahwa sebenarnya aku masih mencari jati diri. Untuk mencari apa tujuan hidupku. Anyway ga penting… hehehe…

Mau cerita ajah apa yang aku lihat dan aku renungkan sepanjang jalan kemarin.

Ketika sampai di depan daerah BIP melihat ada spanduk lembaga pendidikan yang menawarkan kemudahan untuk mendapatkan ijazah, kemudian teringat juga dengan iklan-iklan di radio yang tentang hal sama.  Membaca kalimat yang dipakai “Lulus D3 2 tahun dengan biaya murah… Bebas skripsi…, dll” membuatku bertanya apa sih tujuan untuk belajar? Mencari ilmu khan? tapi kok yang ditawarkan malah biaya, kemudahan belajar, kemudahan bekerja, dll. Bahkan aku, teman-temanku, adik-adik kelasku ketika masih SMA bertanyanya biaya untuk kuliah mahal apa ga sih? Kotanya rame ga sih? dan beberapa pertanyaan ga penting lainnya. Padahal seharusnya untuk mencari ilmu berbagai halangan, rintangan dan cobaan tidak menjadi alasan untuk berhenti. Pernah dulu ada adik kelasku diterima di kampus yang sama denganku namun dia juga diterima di salah satu sekolah kedinasan (yang menurutku mematikan cita-cita) dan dia memilih sekolah kedinasan itu. Memang iming-iming penghasilan yang besar, belajar yang mudah (cuman jangan sampe DO ajah), ga bayar, tapi yang dia dapat hanyalah ilmu yang hanya untuk dirinya dan kekangan birokrasi karena status kedinasan yang dia pegang.

Hal yang lebih parah dengan para lembaga pendidikan yang ‘menjual’ ilmu, ga papa kalo ilmu yang dia jual memang berkualitas ikan emas, tapi kalo ikan teri?? Selain juga aneh kenapa kok pemberi ilmu yang mencari pencari ilmu, bukan sebaliknya….

Yang kedua yang aku lihat kemarin adalah angkot. Merasa sedih kenapa angkot sangat banyak, namun penumpang sangat sedikit. Dengan Bandung yang macet, pastinya bensin yang dihabiskan banyak, apakah cukup penghasilan mereka? Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya kalo sang sopir itu aku. Pernah terpikir kenapa mereka ga ganti kerja aja, namun kerja apa ya?? Cuman mengerti ada masalah disana namun aku tidak tahu apa solusi dari masalah itu.  Mungkin itulah yang menyebabkan para angkot menyebalkan, suka ngetem, berjalan lambat dan menggangu lalu lintas, tuntutan perut lebih mendorong mereka daripada tuntutan membantu dan membuat orang lain nyaman dan senang.

Yang ketiga, sepanjang jalan jumlah pengamen dan pengemis semakin banyak. Anak-anak kecil pun semakin banyak yang berprofesi sebagai pengamen dan pengemis. Hatiku berteriak “apakah kalian ga punya cita-cita? Tidak pernahkah kalian ditanya apa cita-citamu? Tidak pernahkah kalian menjawab ingin menjadi presiden, dokter, pilot dan sebagainya? Lalu kenapa kalian tidak berjuang mendapat cita-cita itu?” 

Sedih, kesal, kenapa aku melihat semua masalah ini dan aku masih belum bisa melakukan apapun. Suka dengan kata-kata si Arai “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” .

Kusadari bahwa diri ini kerdil tak berdaya…
Di hadapanMu Sang Kuasa…