Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang berpikir positif, aku ingin berbagi tentang beberapa pengalamanku bagaimana pikiranku benar-benar hasil pikiranku, terwujud di dalam kehidupan nyataku.

Yang pertama adalah ketika aku duduk di SD, di pikiranku terframe aku adalah seorang anak yang bodoh. Aku sering dibandingkan dengan sepupuku yang lebih pintar, dan hasilnya aku baru bisa menjadi ‘anak pintar’ pada kelas 6, dari kelas 1 sampai kelas 5 aku hanyalah seorang anak yang biasa-biasa saja.Di sini aku mengalami masa dimana proses sebagai korban sebuah doktrin. Namun, untungnya di masa ini aku juga mengalami sebuah kejadian titik balik yang membalik keadaanku 180 derajat. Kejadian ini terjadi pada saat aku duduk di kelas lima. Saat itu, ada sebuah soal matematika yang sangat sulit (buat anak kelas lima SD) . Hampir semua anak kebingungan untuk menentukan jawabannya. Akhirnya timbul dua kubu jawaban, jawaban semua anak di kelas kecuali aku, dan jawabanku. Wew, satu banding lima puluh satu kalau ga salah. Dan alhamdulillah jawabanku yang benar. Bangga sekali saat itu dan kepercayaan diriku langsung meningkat pesat dan pada kelas 6 akhirnya aku ‘merajai’ mata pelajaran matematika itu. Padahal pada kelas tiga kalau ga salah, untuk melakukan pembagian pun aku tidak bisa (argghh cupu kali diri ini kalau mengingat kejadian itu). Kelas dua sering dimarahi guru karena tidak bisa, dan pernah juga mencontek pada ujian bahasa daerah (ini adalah pertama kalinya aku mencontek dan sepertinya yang terakhir untuk mencontek ke sebuah contekan yang telah dipersiapkan di rumah) dan ketahuan sama gurunya (arrggghh lagi, sudah ga bisa, contekannya diambil lagi oleh gurunya).

Ketika duduk akan masuk SMP, aku sempat tidak ingin masuk ke sekolah unggulan di kotaku karena teman-teman segengku, sebagian besar NEMnya tidak mencukupi, dan aku ingin tetap bersama mereka. Hasilnya di awal-awal aku sempat bosan juga bersekolah karena tidak punya teman akrab seperti di SD, dan butuh beberapa waktu bisa kembali memiliki sebuah geng. Di masa ini, pikiranku kembali teracuni bahwa aku tidak akan pernah bisa mengungguli salah seorang temanku, walhasil aku hanya bisa menang darinya pada akhir masa sekolah SMP. Pada awal kelas satu, aku masih teringat kejayaanku di masa SD, dan ternyata terlalu sombong itu tidak baik. Buktinya, seorang anak yang di SD-nya jagoan matematika, ternyata di SMP ini tidak bisa berbuat banyak. Di kelas satu SMP ada seorang guru matematika yang hebat (aku kagum padanya) namun punya kebiasaan aneh. Jika ada bab yang memungkin untuk tiap orang menyebutkan satu bagian (misal kasus ini tentang sudut pada geometri), semua orang digilir untuk menjawab, jika tidak bisa… hadiah sebuah pukulan dengan menggunakan penggrasi kayu untuk papan tulis siap diberikan, arrghh jadilah aku yang cupu namun sok jumawa itu sering sekali mendapat hadiah aarrgggh. Pada masa SMP ini aku mengalami trauma psikologis, dimana jiwaku tertekan karena banyak sekali preman di sekitar sekolahku (premannya juga sesama anak SMP sih, cuman aku kok penakut sekali ya?? Entahlah). Jadi antara berangkat sekolah dan pulang sekolah harus tepat waktu. Berangkat sekolah jangan kepagian dan kesiangan, kalau kepagian jalanan masih sepi jadi rawan ada preman dan ga ada yang bantuin, dan siangnya juga bakalan sepi juga jalananan menuju ke sekolahku. Begitu juga pada saat pulang sekolah. Di sini aku juga melihat bagaimana seorang kakak kelasku dikeroyok oleh segerombolan anak berandal, wuih pokoknya seram sekali kalau ingat kejadian itu. Namun, kembali diakhiri dengan indah dimana aku menjadi peringkat kedua NEM tertinggi SLTP se kota Probolinggo.

Nah yang paling menyenangkan adalah masa-masa SMAku. Di masa ini, menurutku aku sangat berpikiran positif, semua orang menyenangkan dan suka bercanda. Walhasil hampir semua teman dekatku (hampir satu kelas hahaha) semuanya menyenangkan, suka bercanda dan sangat kompak. Hal ini kualami selama hampir 3 tahun di masa SMA. Di masa SMA ini aku masuk ke salah satu kelas unggulan (ada dua kelas unggulan, satu unggulan beneran, dan satunya cuman namanya aja, dan aku masuk yang kedua hahaha). Walaupun hampir selalu jadi bintang di kelasku (hanya 2 kali ga jadi ranking satu), tetapi nilainya tetap saja jauh dari juaranya kelas unggulan. Namun, kalau masalah kekompakan, kelasku paling keren, mulai dari kompak kalau ada perlombaan antar kelas, solidaritas antar teman, sering ngadain acara bersama-sama sampai kalau ada ujian, hampir sekelas pada kompak (wekk…). Tetapi aku egois kalau dah masalah ujian, jadilah kalau ada ujian semua teman agak gimana gitu, soalnya aku kalau ditanya bakalan pura-pura ga denger (hihihi…), namun hal ini yang membuatku agak menyesal sekarang, ingin sekali aku mengulang masa SMA dan ingin menjadi salah satu peserta peramai ujian di sekolah.

Di kelas satu SMA, aku sempat diajar oleh guru PPL (mahasiswa yang melakukang kerja praktek untuk mengajar dari UNESA). Dia mengajar mata pelajaran matematika, jadilah aku jadi anak kesayangan (wkwkwk… wong yang nyambung aku doang, yang lainnya ga tau deh pada kemana, ke laut paling). Pernah suatu saat ada ulangan matematika dan aku mendapat nilai tertinggi. Kemudian aku diberi sebuah hadiah yang diberikan oleh seorang temanku (cewek lah ehem ehem), sejak itu malah aku malang kesengsem sama temanku yang ngasih hadiah itu, namun ya itu, ga berani bilangnya jadilah diembat ma orang lain, kakak kelasnya semasa SMP.

Di kelas dua SMA, adalah masa-masa terindah. Di sini, kelasku dekat dengan kantin sekolah. Jadi setiap pergantian kelas, hampir semuanya keluar kelas untuk jajan. Kadang-kadang, juga ga hanya jajan tapi maen bola (khan kelasnya juga paling dekat dengan lapangan bola). Kemudian sebagian besar siswanya adalah anggota pengurus OSIS (termasuk aku), jadi kalau bosan, ketua OSISnya keluar membuat surat ijin untuk rapat OSIS, dan kelasnya pun kosong (wkwkwk….). Padahal rapat OSISnya ga penting. Juga di kelas dua SMA ini, ada turnamen bola antar kelas. Kelasku merupakan salah satu underdog, jadi pada awal turnamen sudah mengalami kekalahan, namun untungnya turnamen diulang karena ada kejadian yang tidak mengenakkan (ada kejadian menimpa sahabatku pada saat pertandingan), dan beruntunglah gara-gara diulang, kelasku bisa melaju sampai babak final, dan meraih peringkat kedua. Di sini juga sempat mengkhayal dengan teman-temanku yang lain bahwa nanti kamilah yang akan memimpin bangsa ini. Pada saat itu, kami juga telah memimpin kabinet dimana aku kebagian jabatan menteri ristek hehehe lumayan, namun dengan syarat untuk mengambil jabatan itu, harus menunjukkan kaos bola tim kami (hahaha masak mo jadi menteri kuncinya pake kaos bola :D).

Di kelas tiga, sempat kecewa karena beberapa dedengkot kelas 2F dipindah ke kelas unggulan. Jadilah agak sepi. Namun, tetap saja akhirnya ‘kegilaan’ muncul kembali. Aku ingat ada seorang temanku yang kalau pelajaran biologi (sebenarnya ga hanya satu, hampir satu kelas, entah kenapa gurunya punya aura untuk menidurkan siswanya, ya kemudian tergantung kreativitas masing-masing orang bagaimana untuk tidur agar tidak ketahuan). Temanku itu sampai membawa segelas kopi ke kelas agar tidak tertidur, namun hasilnya tetap saja dia tidur pada saat pelajaran biologi, anehnya hanya pelajara biologi. Di kelas tiga ini aku berhenti mentoring (hehehe alasannya klasik banyak tugas, harus belajar untuk ujian dan bla bla), jadilah tergoda setan wkwkwk. Di kelas tiga ini aku memberanikan diri untuk ‘menembak’ seorang cewek untuk jadi pacarku (hem…) jadilah kami berdua sempat mengalami masa-masa bahagia (sempat karena akhirnya sedih, makanya yang belum pacaran jangan pacaran deh kayaknya karena sakitnya sangat….). Kami cuman teman satu les bahasa inggris namun beda sekolah. Dia juga jagoan, jadilah tiap kali ketemu sering ngebahas masalah pelajaran dan nantinya kami berdua sama-sama meraih NEM tertinggi, dia (dia bukan ‘dia’) di kabupaten Probolinggo dan aku di kota Probolinggo, tapi tetep saja nilai NEMnya lebih tinggi dariku (arrggghh kalah lagi ). Dia juga yang kuanggap berjasa masuk ke ITB, karena dia yang manasin aku untuk rajin belajar dan dia juga meminjamkan soal-soal SPMBnya ke aku karena dia sudah diterima di UM UGM, sedangkan aku masih belum punya kepastian akan kuliah dimana. Namun akhirnya pada masa kuliah, dia meminta untuk memutuskan hubungan ini, karena berbagai macam alasan dan jadilah jomblo dan juga aku ngerti kalau pacaran itu ga baik (selain trauma tentunya). Pada saat putus (bener ga sih??), sempat deh syok wkwkwk… tapi ya cuman beberapa hari, setelah itu ya nyantai lagi.

Pada saat masa SPMB, aku juga menuliskan kamarku satu tulisan yang terwujud, yaitu “AKU AKAN MASUK TEKNIK INFORMATIKA” dan walhasil kembali aku berada di sini sekolah di teknik Informatika.

What an amazing! Hampir semua apa yang aku pikirkan terwujud, gila..!!! Sebuah hal yang sulit dipercaya namun itu tidak bisa dipungkiri.